Red Velvet Cake: Asal-Usul, Kenapa Warnanya Merah
Kenapa red velvet cake berwarna merah dan rasanya seperti apa? Kenali asal-usul, beda dengan kue cokelat, cara memilih, dan cara menyimpannya.
Ada satu momen kecil yang mungkin pernah kamu alami. Kamu berdiri di depan etalase kue, sudah setengah yakin mau ambil kue cokelat seperti biasa. Lalu matamu tertahan pada satu kue berwarna merah tua dengan lapisan krim putih di antaranya. Cantik sekali. Tapi muncul pertanyaan di kepala: "Ini sebenarnya rasa apa, sih? Cokelat? Stroberi? Atau cuma kue biasa yang diberi pewarna?"
Kalau kamu pernah bertanya-tanya begitu, tenang. Red velvet cake memang salah satu kue yang paling sering membuat orang penasaran. Namanya terdengar mewah, warnanya mencolok, dan ceritanya ternyata panjang, lengkap dengan legenda hotel mewah di New York, kampanye perusahaan pewarna di Texas, dan sebuah film tahun 1989 yang membuatnya populer lagi.
Di Chocolicious, kami punya beberapa kue dengan sentuhan red velvet, dan pertanyaan seperti di atas cukup sering kami dengar. Jadi kali ini kami ingin mengajak kamu mengenal red velvet cake lebih dekat: dari mana asalnya, kenapa warnanya merah, rasanya seperti apa, bedanya dengan kue cokelat biasa, sampai cara memilih dan menyimpannya. Supaya lain kali kamu memilih karena benar-benar tahu apa yang kamu suka. ✨
Dari "Velvet Cake" ke Red Velvet: Asal-Usul yang Penuh Cerita
Awalnya soal tekstur, belum soal warna
Kata velvet artinya beludru. Menurut para sejarawan kuliner, nama ini awalnya menggambarkan tekstur kue yang halus dan lembut seperti kain beludru. Warnanya belum jadi bagian dari cerita.
Atlas Obscura (2023), mengutip penulis kue Stella Parks, mencatat resep "Velvet Cake" yang tertua tercatat ada di buku karya A.W. Chase tahun 1873. Sejarawan kuliner Gil Marks bahkan menyebut ada resep velvet cake dari tahun 1871. Di era Victoria, kue-kue bertekstur lembut seperti ini sedang tren. Tekstur halusnya biasanya didapat dari bahan seperti tepung yang lebih halus atau tambahan pati, yang membuat remah kue lebih lembut.
Dalam wawancara dengan program radio The Splendid Table (2017), Stella Parks menjelaskan bahwa sekitar tahun 1911 mulai muncul resep "velvet cocoa cake" yang memakai bubuk kakao. Ketika resep ini menyebar ke wilayah Selatan Amerika Serikat, buttermilk (susu fermentasi yang rasanya agak asam) jadi bahan yang umum dipakai.
Legenda Waldorf-Astoria
Kalau kamu pernah membaca cerita bahwa red velvet berasal dari Hotel Waldorf-Astoria di New York, kamu tidak sendirian. Cerita ini sangat populer. Konon ada seorang tamu yang menyukai kue itu, meminta resepnya, lalu ditagih mahal. Karena kesal, ia menyebarkan resep itu ke mana-mana.
Masalahnya, cerita ini sulit dibuktikan. Smithsonian Magazine (2010) menyebutnya sebagai urban myth, dan menyebut rujukan kredibel pertama tentang kue itu baru muncul di buku American Cookery karya James Beard tahun 1972. Mental Floss (2013) juga menyebut cerita Waldorf keliru dan menyamakannya dengan legenda-legenda resep mahal lain. Gil Marks menduga legenda ini tercampur dengan "red Waldorf cake" yang baru muncul tahun 1959.
Jadi, anggap saja kisah Waldorf ini sebagai dongeng manis yang menyenangkan untuk diceritakan, tapi belum tentu benar. 😄
Peran perusahaan pewarna dari Texas
Bagian sejarah yang lebih terdokumentasi datang dari Adams Extract, perusahaan ekstrak dan pewarna makanan dari Texas. Majalah Texas Highways (2022) menulis bahwa Adams merilis paket empat warna pewarna makanan pada tahun 1947, lalu mencetak kartu resep red velvet karya Betty Adams yang dibagikan di toko-toko. Situs resmi Adams Extract juga menyebut kampanye poster dan kartu resep ini.
Ada sumber lain yang mengaitkan kampanye Adams dengan era 1930-an, tapi buktinya belum sekuat catatan tahun 1940-an. Jadi yang paling aman dikatakan: sekitar tahun 1940-an, red velvet dengan warna merah terang mulai dipopulerkan lewat pewarna makanan.
Film tahun 1989 yang membuatnya naik daun lagi
Red velvet sempat meredup, lalu kembali populer setelah film Steel Magnolias (1989). Dalam film itu ada groom's cake (kue khusus untuk mempelai pria) berbentuk armadillo, berisi red velvet dan dilapisi warna abu-abu. Mental Floss (2023) dan Atlas Obscura sama-sama menyebut adegan ini ikut menghidupkan kembali minat orang pada red velvet.
Setelah itu, red velvet makin sering muncul di toko kue di Amerika, lalu menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sekarang, rasa red velvet bahkan muncul di minuman kafe, seperti red velvet latte, yang resepnya pernah dibahas JawaPos (2025).
Kenapa Warna Red Velvet Merah?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Jawabannya ada dua bagian: kimia kakao dan pewarna.
Kakao alami dan asam: merahnya tidak semerah yang kamu bayangkan
Kakao alami (yang tidak diproses dengan alkali) mengandung pigmen antosianin. Pigmen ini bisa berubah warna tergantung tingkat keasaman. Ketika kakao alami bertemu bahan asam seperti buttermilk atau cuka, warnanya bisa bergeser ke rona kemerahan.
Tapi seberapa merah? Menurut Stella Parks, warnanya lebih mirip merah kecokelatan, seperti warna kayu mahoni. Sebuah percobaan yang ditulis di ChemEd X (2022) juga menemukan kue yang lebih asam memang tampak lebih kemerahan dibanding kue kontrol, tapi masih "jauh" dari warna red velvet yang kita kenal sekarang.
Kakao modern lebih gelap
Banyak kakao modern diproses dengan alkali (dikenal sebagai Dutch-process). Menurut American Society of Baking, proses ini menaikkan pH kakao dari sekitar 5,2 sampai 5,6 menjadi sekitar 6,8 sampai 7,5. Hasilnya, warna kakao jadi lebih gelap dan rasanya lebih lembut. Smithsonian menyebut kakao yang diolah seperti inilah salah satu alasan pewarna jadi diperlukan untuk mendapatkan warna merah yang jelas.
Bagaimana dengan bit merah?
Kamu mungkin pernah dengar bahwa red velvet dulu diwarnai dengan bit merah saat masa penjatahan bahan makanan di era perang. Cerita ini sering diulang, tapi sumber-sumbernya belum seragam. Ada yang menyebut Perang Dunia II, ada yang menyebut Perang Dunia I dan masa Depresi Besar, dan Gil Marks bahkan menyebut anggapan bahwa bit adalah pewarna asli red velvet sebagai mitos. Jadi kami menyimpannya sebagai cerita yang menarik, tapi belum terbukti.
Yang jelas, resep red velvet modern umumnya memakai pewarna makanan untuk mendapatkan warna merah yang cerah dan konsisten.
Pewarna makanan di Indonesia
Di Indonesia, penggunaan pewarna makanan diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan. Ada pewarna alami, seperti merah bit, antosianin, dan karmin, serta pewarna sintetis yang diizinkan dalam batas tertentu, seperti Ponceau 4R, Merah Allura, Karmoisin, dan Eritrosin. Rhodamin B, pewarna tekstil, termasuk yang dilarang untuk pangan.
Untuk kamu sebagai pembeli, tips praktisnya sederhana: belilah kue berwarna dari toko yang jelas identitasnya, dan kalau ingin tahu lebih jauh soal bahan, jangan ragu bertanya ke penjualnya.
Rasanya Seperti Apa? Bedanya dengan Kue Cokelat
Banyak orang mengira red velvet itu kue cokelat yang diwarnai merah. Ada benarnya, tapi rasanya punya karakter sendiri.
Gil Marks menggambarkan red velvet klasik sebagai kue yang lembap, lembut, sedikit asam (tangy), dan tidak terlalu manis. Rasa kakaonya ada, tapi samar. Tidak seperti kue cokelat pekat yang langsung "nendang" di lidah.
Kalau dibandingkan dengan kue cokelat biasa:
- Red velvet klasik memakai kakao dalam jumlah lebih sedikit, jadi rasa cokelatnya lebih ringan.
- Buttermilk atau bahan asam lain memberi sedikit rasa segar yang khas.
- Teksturnya cenderung halus dan lembut, sesuai namanya.
- Pasangannya yang paling terkenal adalah krim keju (cream cheese frosting) yang manis sekaligus sedikit asam.
Menariknya, menurut Atlas Obscura, krim keju baru melekat erat dengan red velvet sekitar tahun 1970-an. Sebelumnya, red velvet sering dilapisi frosting yang dibuat dari tepung yang dimasak dengan susu, lalu dikocok bersama mentega dan gula. Frosting jenis ini dikenal dengan nama ermine frosting.
Jadi kalau kamu suka kue cokelat tapi kadang merasa kue cokelat terlalu berat, red velvet bisa jadi jalan tengah yang menyenangkan. ❤️
Red Velvet di Chocolicious
Di Chocolicious, sentuhan red velvet hadir dalam dua kue dari Cake Series yang sering dipilih untuk momen perayaan:
Choco Velvet Cake hadir dengan lapisan kue berwarna merah dan krim putih, dihiasi sentuhan cokelat, ceri merah, dan bingkai cokelat putih. Kue ini cocok untuk kamu yang ingin tampilan elegan di meja perayaan, misalnya ulang tahun pasangan, anniversary, atau syukuran kecil bersama keluarga.
Velvet Fantastic Four Cake adalah satu kue dengan empat tampilan. Ada sentuhan red velvet, remah cokelat, biskuit cokelat, matcha, dan glaze cokelat, lalu dihiasi ceri dan krim putih. Pilihan ini pas untuk kamu yang sulit memutuskan satu rasa, atau untuk acara dengan tamu yang seleranya beragam.
Kalau kamu menyukai rasa gurih-asam krim keju yang biasa menemani red velvet, kamu juga bisa melengkapi meja dengan Cream Cheese Croissant atau Cranberry Cream Cheese Bagels sebagai teman ngopi. Lihat pilihan lengkapnya di menu Chocolicious. 👉
Cara Memilih Red Velvet Cake yang Pas
Red velvet cocok untuk banyak momen, tapi ada beberapa hal yang bisa kamu pertimbangkan supaya pilihannya terasa tepat.
Sesuaikan dengan momennya
Warna merah sering diasosiasikan dengan cinta dan perayaan. Itu sebabnya red velvet sering dipilih untuk anniversary, ulang tahun pasangan, lamaran, atau hadiah untuk seseorang yang spesial. Tapi kamu juga bisa memilihnya untuk self-reward setelah minggu yang melelahkan. Tidak ada aturan bahwa kue cantik hanya boleh dibeli untuk orang lain.
Perhatikan selera yang akan menikmatinya
Kalau tamu atau orang yang kamu sayangi suka cokelat yang pekat, mungkin kue cokelat klasik tetap jadi pilihan utama. Tapi kalau mereka suka rasa yang lebih ringan dan lembut, red velvet bisa jadi kejutan menyenangkan. Untuk acara dengan banyak orang yang seleranya berbeda, kue dengan beberapa rasa dalam satu loyang, seperti Velvet Fantastic Four Cake, bisa membantu.
Hitung jumlah tamu
Sebelum memesan, perkirakan dulu berapa orang yang akan menikmati kue. Ukuran loyang dan cara memotong akan menentukan berapa potong yang bisa kamu bagikan. Kalau ragu, tanyakan ke admin kami ukuran yang paling pas untuk jumlah tamumu.
Tanyakan isi dan bahan bila ada kebutuhan khusus
Kalau ada tamu yang punya alergi atau pantangan bahan tertentu, misalnya susu, kacang, atau telur, tanyakan detail bahan sebelum memesan. Ini kebiasaan baik untuk kue apa pun, termasuk red velvet.
Pesan lebih awal untuk momen penting
Untuk momen yang tanggalnya sudah pasti, seperti ulang tahun atau anniversary, memesan lebih awal membuat kamu lebih tenang. Kamu juga punya waktu untuk menambahkan ucapan atau memilih kue yang paling sesuai.
Cara Menikmati Red Velvet Supaya Lebih Terasa
Kue yang sama bisa terasa berbeda tergantung cara kamu menyajikannya. Beberapa kebiasaan kecil ini bisa membantu.
Jangan langsung dari kulkas ke mulut
Kue berkrim yang baru keluar dari kulkas terasa lebih padat dan rasanya sedikit "tertutup", karena lemak di krim dan kue masih mengeras. Biarkan sebentar di suhu ruang sebelum dinikmati, seperti saran America's Test Kitchen yang kami kutip di bagian penyimpanan. Cukup sampai krimnya terasa lembut, lalu segera kembalikan sisanya ke kulkas, apalagi di siang Makassar yang panas.
Potong dengan pisau hangat
Untuk potongan yang rapi, celupkan pisau ke air panas, lap sampai kering, lalu potong. Ulangi setiap beberapa potongan. Lapisan merah dan krim putihnya akan terlihat jelas, dan itu bagian yang paling cantik dari red velvet saat difoto. 📸
Pilih teman minum yang pas
Karena rasa kakaonya ringan dan ada sentuhan asam, red velvet enak ditemani minuman yang tidak terlalu manis. Kopi hitam, americano, atau teh tawar hangat bisa menyeimbangkan manisnya krim. Kalau kamu suka yang dingin, susu segar dingin juga pasangan klasik.
Sajikan di piring yang kontras
Warna merah kue akan lebih menonjol di atas piring putih atau polos. Tambahkan beberapa buah beri atau ceri di samping potongan kalau ingin tampilannya lebih meriah untuk acara.
Red Velvet untuk Berbagai Momen
Kami sering melihat red velvet dipilih untuk momen-momen yang beragam, dari yang besar sampai yang kecil.
Ada yang memesannya untuk kejutan ulang tahun pasangan, lengkap dengan lilin dan ucapan singkat di atas kue. Ada yang memilihnya untuk anniversary orang tua, karena warnanya terasa hangat dan romantis. Ada juga yang membelinya untuk acara kantor, karena tampilannya menarik di meja dan rasanya cukup aman untuk banyak orang.
Lalu ada momen yang lebih pelan. Misalnya kamu baru menyelesaikan proyek besar, baru lulus sidang, atau akhirnya berhasil melewati minggu yang berat. Membeli satu kue cantik untuk dirimu sendiri adalah cara sederhana untuk berkata, "Aku sudah melakukan yang terbaik." Kami percaya, momen seperti itu juga layak dirayakan.
Cara Menyimpan Red Velvet Cake
Red velvet, apalagi yang memakai krim atau krim keju, termasuk kue yang mudah rusak. Jadi cara menyimpannya penting.
Simpan di kulkas
King Arthur Baking (2024) menyarankan kue dengan krim keju disimpan di kulkas dan tidak dibiarkan di suhu ruang. Menurut mereka, kue seperti ini umumnya bertahan sekitar 3 sampai 4 hari di kulkas bila disimpan dalam wadah kedap udara. America's Test Kitchen, yang merujuk pedoman FDA, juga menyebut makanan berbahan krim keju sebaiknya didinginkan setelah 2 jam.
Perhatikan batas waktu di suhu ruang
Lembaga keamanan pangan Amerika Serikat, USDA FSIS, menyarankan makanan yang mudah rusak dimasukkan ke kulkas dalam waktu 2 jam. Kalau suhu udara di atas 32°C, batasnya hanya 1 jam. Di Makassar yang sering panas, patokan 1 jam lebih aman, terutama kalau acara digelar di luar ruangan atau di ruangan tanpa pendingin.
Keluarkan hanya potongan yang akan disajikan
America's Test Kitchen menyarankan membiarkan kue sedikit menghangat sebelum disajikan supaya teksturnya lebih lembut, dan mengeluarkan hanya bagian yang akan disajikan. Sisanya tetap di kulkas.
Tutup rapat
Kue di kulkas mudah menyerap aroma makanan lain dan bisa mengering di bagian yang terbuka. Simpan dalam kotak tertutup atau tutup bagian potongan dengan plastik wrap.
Bekukan potongan bila ingin lebih lama
King Arthur Baking juga menyebut potongan kue bisa dibekukan. Bungkus rapat per potong supaya mudah dikeluarkan satu per satu.
Untuk kue dari Chocolicious, sebaiknya ikuti juga saran penyimpanan dari admin atau keterangan di kemasan, karena setiap kue punya komposisi krim yang berbeda.
Mitos dan Fakta Singkat tentang Red Velvet
Biar mudah diingat, berikut rangkumannya.
"Red velvet itu kue stroberi"
Kurang tepat. Red velvet klasik berbasis kakao dalam jumlah sedikit, dengan rasa sedikit asam dari buttermilk.
"Red velvet berasal dari Hotel Waldorf-Astoria"
Ini legenda populer yang sulit dibuktikan. Resep velvet cake sudah ada sejak tahun 1870-an.
"Warna merahnya murni dari kakao"
Kakao alami yang bertemu asam memang bisa memberi rona kemerahan, tapi lebih ke merah kecokelatan. Warna merah terang umumnya datang dari pewarna makanan.
"Red velvet selalu pakai krim keju"
Krim keju adalah pasangan paling populer sejak sekitar 1970-an. Sebelumnya, frosting berbahan tepung dan susu lebih umum.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Red velvet cake itu rasa apa?
Red velvet klasik adalah kue dengan sedikit kakao, rasa sedikit asam dari buttermilk, dan tekstur lembut. Rasanya lebih ringan dibanding kue cokelat biasa, dan sering dipadukan dengan krim keju.
Kenapa red velvet berwarna merah?
Kakao alami yang bertemu bahan asam bisa memberi rona merah kecokelatan. Warna merah terang yang kita kenal sekarang umumnya berasal dari pewarna makanan, yang mulai dipopulerkan sekitar tahun 1940-an.
Apa bedanya red velvet dan kue cokelat?
Kue cokelat biasanya memakai lebih banyak kakao sehingga rasa cokelatnya pekat. Red velvet memakai kakao lebih sedikit, ada rasa sedikit asam, dan teksturnya lebih halus.
Apakah red velvet cake harus disimpan di kulkas?
Kue dengan krim, terutama krim keju, sebaiknya disimpan di kulkas dan tidak dibiarkan lebih dari 2 jam di suhu ruang, atau 1 jam bila udara di atas 32°C.
Berapa lama red velvet cake tahan di kulkas?
King Arthur Baking menyebut kue berkrim keju umumnya tahan sekitar 3 sampai 4 hari di kulkas dalam wadah tertutup. Ikuti juga saran dari toko tempat kamu membeli.
Di mana beli red velvet cake di Makassar?
Kamu bisa memilih Choco Velvet Cake atau Velvet Fantastic Four Cake di Chocolicious. Cek ketersediaan dan pesan lewat WhatsApp admin kami.
Penutup
Red velvet cake ternyata punya perjalanan yang panjang. Dari kue bertekstur beludru di abad ke-19, legenda hotel mewah yang belum terbukti, kartu resep perusahaan pewarna di Texas, sampai kue armadillo di sebuah film. Tapi yang membuatnya tetap dicintai sampai sekarang mungkin sederhana: rasanya lembut, warnanya membuat momen terasa istimewa, dan setiap potongnya terasa seperti perayaan kecil.
Jadi lain kali kamu berdiri di depan etalase dan melihat kue merah dengan krim putih itu, kamu sudah tahu ceritanya. Tinggal tentukan, untuk siapa potongan pertama kali ini? Untuk pasanganmu, sahabatmu, keluargamu, atau untuk dirimu sendiri yang sudah berjuang sejauh ini. ❤️
Jadikan momenmu lebih berkesan hari ini bersama Chocolicious. Order sekarang dan cek ketersediaan di outlet terdekat.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!