The Journal

Bagel atau Croissant? Bedanya, Asal-Usul, dan Cara Menikmatinya

Apa bedanya bagel dan croissant? Kenali asal-usul, kenapa teksturnya berbeda, cara menyimpan dan menghangatkan, plus pilihan di Chocolicious.

Bagel atau Croissant? Bedanya, Asal-Usul, dan Cara Menikmatinya

Jam sembilan pagi. Kamu berdiri di depan etalase, masih setengah mengantuk, dengan rapat sejam lagi yang sudah menunggu. Di sebelah kiri ada roti bulat berlubang dengan taburan wijen. Di sebelah kanan ada roti berbentuk bulan sabit yang kulitnya mengilap dan berlapis-lapis. Dua-duanya menggoda. Dua-duanya kelihatan cocok untuk sarapan di mobil. 🥯🥐

Lalu muncul pertanyaan klasik: bagel atau croissant?

Sekilas, keduanya memang sama-sama roti sarapan ala kafe. Tapi kalau kamu pernah menggigit keduanya, kamu pasti tahu rasanya sangat berbeda. Bagel padat dan kenyal, croissant ringan dan renyah sampai remahnya jatuh ke mana-mana. Perbedaan itu punya penjelasan, dan ceritanya ternyata panjang, dari dapur komunitas di Polandia sampai toko roti Wina di Paris.

Di artikel ini, kita kenalan lebih dekat dengan dua roti ini: dari mana asalnya, kenapa teksturnya bisa begitu berbeda, kapan sebaiknya memilih yang satu atau yang lain, sampai cara menyimpan dan menghangatkannya supaya tetap enak. Di Chocolicious, bagel dan croissant punya rak sendiri di menu kami, dan pertanyaan "bedanya apa sih?" termasuk yang paling sering kami dengar di kasir. Jadi, yuk kita bahas. ✨

Sekilas: dua roti, dua karakter

Sebelum masuk ke sejarah, ini gambaran singkatnya.

Bagel adalah roti beragi berbentuk cincin yang direbus sebentar sebelum dipanggang. Hasilnya kulit yang mengilap dan sedikit liat, dengan bagian dalam yang padat dan kenyal. Satu bagel terasa "berisi" dan cukup mengenyangkan.

Croissant adalah pastry beragi yang adonannya dilipat berkali-kali bersama mentega. Hasilnya kulit yang renyah dan bagian dalam yang berongga, lembut, dan berlapis seperti sarang lebah. Croissant terasa ringan, gurih mentega, dan mudah dipadukan dengan rasa manis maupun asin.

Kalau diibaratkan orang, bagel itu teman yang kalem dan bisa diandalkan. Croissant itu teman yang ramah dan sedikit dramatis, karena selalu meninggalkan jejak remah di bajumu. 😄

Cerita bagel: dari Kraków ke New York

Asal-usul pasti bagel sebenarnya tidak diketahui. Encyclopaedia Britannica menyebut bagel kemungkinan besar berasal dari Eropa Tengah. Catatan dari istana kerajaan Polandia pada abad ke-14 sudah menyebut obwarzanek, roti rebus berbentuk cincin yang mirip bagel.

Catatan yang paling sering dikutip berasal dari Kraków, Polandia. Dalam bukunya tentang bahasa Yiddish, Leo Rosten menulis bahwa kata bajgiel pertama kali tercatat dalam peraturan komunitas Yahudi di Kraków pada 1610. Peraturan itu menyebut bagel sebagai hadiah untuk perempuan yang baru melahirkan. Sejarawan Maria Balinska juga membahas catatan ini dalam bukunya tentang sejarah bagel (2008).

Ada juga legenda yang sering beredar: bagel konon dibuat seorang pembuat roti di Wina pada 1683, berbentuk seperti sanggurdi pelana, untuk menghormati Raja Polandia John III Sobieski yang membantu mempertahankan kota itu. Britannica mencatat cerita ini sebagai legenda yang banyak diulang. Seru untuk diceritakan, tapi sebaiknya tidak dianggap sebagai fakta sejarah.

Bagel kemudian dibawa ke Amerika Serikat oleh para imigran Yahudi dari Eropa pada akhir abad ke-19. Di sana, bagel melekat erat dengan kota New York, dan dari situlah bagel menyebar ke kafe dan toko roti di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kenapa bagel kenyal dan padat?

Rahasia utamanya ada di satu langkah yang tidak dimiliki roti lain: direbus.

Menurut Britannica, bagel secara tradisional dibentuk dengan tangan menjadi cincin, lalu direbus sebentar untuk "menyegel" permukaannya, baru kemudian dipanggang. Proses perebusan inilah yang membuat teksturnya rapat. Sebagian produsen besar memakai uap sebagai pengganti air rebusan. Olesan kuning telur atau susu sebelum dipanggang memberi kulit yang mengilap.

Bahan dasarnya sederhana: tepung, ragi, garam, dan pemanis. Britannica menyebut tepung tinggi gluten sebagai kunci tekstur kenyalnya. Gluten adalah jaringan protein yang terbentuk saat tepung terigu diuleni dengan air, dan semakin kuat jaringannya, semakin "melawan" roti itu saat digigit. Adonan bagel juga termasuk adonan roti yang paling kaku karena airnya relatif sedikit.

Jadi kalau kamu merasa bagel butuh usaha lebih untuk dikunyah, itu memang karakternya. Justru di situ enaknya. Bagel terasa mengenyangkan dan cocok untuk diisi bahan yang "berat" seperti daging dan keju.

Cerita croissant: dari kipferl Austria ke Paris

Bentuk bulan sabit croissant sebenarnya punya leluhur yang jauh lebih tua. Menurut Europeana, platform warisan budaya Eropa, orang Austria sudah membuat kipferl, roti atau kue berbentuk bulan sabit, setidaknya sejak abad ke-13, dalam versi manis maupun asin.

Kipferl lalu sampai ke Paris. Europeana mencatat August Zang, seorang perwira artileri asal Austria, membuka toko roti bernama Boulangerie Viennoise di rue de Richelieu, Paris, pada akhir 1830-an. Toko ini menjual roti-roti khas Wina, termasuk kipferl, dan menginspirasi para pembuat roti Prancis. Nama "croissant" sendiri diambil dari bentuknya yang seperti bulan sabit.

Sama seperti bagel, croissant juga punya legenda tentang pengepungan Wina tahun 1683. Konon kipferl dibuat untuk merayakan kekalahan pasukan Ottoman, dengan bentuk bulan sabit yang meniru lambang mereka. Europeana menyebut cerita ini umumnya dianggap cerita yang menarik saja, tanpa bukti sejarah yang kuat. Lucu juga ya, dua roti favorit sarapan sama-sama "mengklaim" lahir dari peristiwa yang sama. 🥐

Lalu kapan croissant berlapis yang kita kenal sekarang muncul? Britannica menyebut resep pertama untuk croissant seperti yang dikenal saat ini muncul pada 1906, dan popularitasnya yang besar adalah fenomena abad ke-20. Europeana mencatat ada yang menunjuk buku Auguste Colombié tahun 1906 sebagai resep tercetak pertama, sementara yang lain menyebut buku Sylvain Claudius Goy tahun 1915 yang memakai adonan beragi berlapis. Jadi croissant renyah berlapis sebenarnya relatif "muda" dibanding leluhurnya.

Kenapa croissant renyah dan berlapis?

Kalau bagel punya rahasia di air rebusan, croissant punya rahasia di lipatan.

Tekniknya disebut laminasi. Lapisan mentega dibungkus adonan, lalu digilas dan dilipat berulang kali. Menurut Institute of Culinary Education (ICE), setiap kali digilas dan dilipat, jumlah lapisan bertambah sekitar tiga sampai empat kali lipat. Sebelum dipanggang, satu croissant sudah punya puluhan lapisan adonan dan mentega yang terpisah. Andy King, dalam tulisannya untuk King Arthur Baking, menggambarkan adonan ini sebagai "buku" berisi lebih dari 80 lapisan.

Di dalam oven, dua hal terjadi bersamaan. Air di dalam lapisan mentega berubah menjadi uap, dan uap itu mendorong lapisan-lapisan adonan agar saling terpisah. Sementara itu, ragi menghasilkan gas yang membuat adonan mengembang. ICE menyebut kombinasi pengembangan dari ragi dan laminasi inilah yang membuat croissant lembut, renyah, dan ringan.

Itulah sebabnya bagian dalam croissant yang baik terlihat seperti sarang lebah, penuh rongga. Dan itu juga sebabnya croissant cenderung "berantakan" saat digigit. Remah itu tanda lapisannya bekerja dengan baik.

Jadi, bedanya apa saja?

Kalau dirangkum, perbedaan paling terasa ada di tekstur. Bagel padat dan kenyal, sedangkan croissant renyah di luar dan lembut berongga di dalam. Itu terjadi karena cara membuatnya berbeda: bagel direbus dulu baru dipanggang, sementara croissant dilipat berkali-kali bersama mentega sebelum masuk oven.

Rasa dasarnya juga lain. Bagel cenderung netral dan sedikit gurih, jadi mudah dipadukan dengan isian apa saja. Croissant membawa rasa mentega yang lebih menonjol, bahkan sebelum diberi isian.

Soal kenyang, bagel umumnya terasa lebih lama di perut karena teksturnya yang rapat. Croissant lebih ringan dan sering dipilih sebagai teman kopi.

Satu lagi yang sering terlupa: kerapian. Bagel jauh lebih bersahabat untuk dimakan di mobil atau di meja kerja. Croissant sebaiknya dimakan dengan piring atau tisu di bawahnya, kecuali kamu memang tidak keberatan menyapu remah dari keyboard.

Kapan memilih bagel, kapan memilih croissant?

Tidak ada jawaban benar atau salah. Tapi ini beberapa situasi yang mungkin bisa membantu kamu memutuskan.

Sarapan cepat sebelum rapat panjang

Kalau kamu tahu siang nanti makan siangnya bisa telat, bagel dengan isian gurih seperti daging dan keju bisa jadi pilihan yang lebih "aman" untuk perut. Teksturnya yang padat membuat kamu merasa kenyang lebih lama, dan gampang dimakan sambil membaca bahan presentasi.

Teman kopi di sore hari

Croissant dan kopi adalah pasangan yang sudah terbukti di banyak kafe dunia. Rasa mentega dari croissant bertemu pahitnya kopi dengan sangat pas. Kalau sore ini kamu butuh jeda sebentar dari layar laptop, croissant dengan sedikit rasa manis seperti hazelnut atau cokelat bisa jadi self-reward kecil yang menyenangkan. ☕

Bekal anak atau bekal kerja

Bagel lebih tahan banting di dalam kotak bekal. Croissant mudah gepeng kalau ditumpuk dengan barang lain. Kalau tetap ingin membawa croissant, letakkan di bagian paling atas tas, dalam wadah yang cukup lega.

Rapat kantor atau arisan

Untuk dibagi di meja rapat, campuran keduanya sering paling disukai. Yang ingin sesuatu yang mengenyangkan bisa mengambil bagel, yang ingin camilan ringan bisa mengambil croissant. Potong bagel menjadi dua atau empat bagian supaya lebih mudah diambil.

Lagi pengin manis atau pengin gurih?

Dua-duanya bisa manis dan bisa gurih. Bagel dengan cokelat atau buah kering terasa seperti roti manis yang padat. Croissant dengan isian ayam atau daging terasa seperti pastry gurih yang ringan. Jadi pilih saja sesuai suasana hatimu hari ini.

Bagel dan croissant di meja sarapan Makassar

Dulu, roti sarapan di banyak rumah di Makassar identik dengan roti tawar, roti manis isi, atau roti khas yang dibeli di warung dekat rumah. Sekarang pilihannya jauh lebih beragam. Bagel dan croissant mulai sering muncul di meja rapat, di kotak bekal, sampai di foto sarapan akhir pekan yang dibagikan di media sosial.

Menurut kami, ini kabar yang menyenangkan. Semakin banyak orang yang mengenal berbagai jenis roti, semakin seru juga pilihan sarapan kita. Dan semakin paham kita tentang bedanya, semakin tepat juga kita memilih sesuai kebutuhan hari itu.

Cara menyimpan bagel dan croissant

Roti apa pun paling enak dinikmati di hari yang sama. Tapi kalau kamu membeli lebih untuk besok pagi, ini beberapa kebiasaan yang bisa membantu.

Untuk dinikmati besok

Simpan bagel dan croissant dalam wadah tertutup atau kantong yang rapat di suhu ruang yang sejuk, jauh dari sinar matahari. Croissant lebih cepat kehilangan kerenyahannya, jadi jangan terlalu kaget kalau besok paginya kulitnya lebih lembut.

Kalau isiannya daging, ayam, keju, atau krim

Roti dengan isian seperti daging, ayam, keju leleh, atau krim keju perlu perhatian lebih. Panduan Five Keys to Safer Food dari WHO menyarankan makanan matang tidak dibiarkan di suhu ruang lebih dari 2 jam, dan makanan yang mudah rusak segera disimpan dingin, sebaiknya di bawah 5°C. Di cuaca Makassar yang panas, ini terasa makin penting. Kalau belum akan dimakan dalam dua jam, simpan di kulkas dalam wadah tertutup. Untuk petunjuk penyimpanan yang paling pas untuk tiap produk, tanyakan ke toko tempat kamu membeli.

Untuk stok lebih lama

Banyak orang menyimpan bagel di freezer untuk stok sarapan. Bagel yang dibelah dulu sebelum dibekukan akan lebih mudah dipanggang langsung dari freezer. Croissant juga bisa dibekukan, meskipun hasil teksturnya setelah dihangatkan bisa berbeda tergantung resep. Kalau ini pertama kali, coba satu dulu sebelum membekukan semuanya.

Cara menghangatkan supaya enak lagi

Bagian ini sering jadi penyelamat sarapan. Tips di bawah ini adalah kebiasaan dapur yang umum dipakai banyak orang, jadi sesuaikan dengan alat yang kamu punya.

Untuk croissant, oven atau toaster oven biasanya memberi hasil terbaik. Hangatkan beberapa menit dengan suhu sedang sampai kulitnya kembali renyah. Microwave memang cepat, tapi uap di dalamnya cenderung membuat croissant lembek dan liat. Kalau terpaksa memakai microwave, cukup beberapa detik saja.

Untuk bagel, belah dua lalu panggang di toaster atau teflon tanpa minyak sampai permukaannya sedikit kecokelatan. Bagian dalamnya akan kembali lembut, dan kulitnya sedikit renyah. Bagel yang sudah agak keras juga bisa diperciki sedikit air sebelum dihangatkan di oven.

Untuk bagel atau croissant dengan isian krim keju atau cokelat, hangatkan sebentar saja supaya isiannya tidak meleleh berlebihan. Untuk isian daging atau ayam yang disimpan di kulkas, pastikan dihangatkan sampai benar-benar panas di bagian tengah.

Kesalahan kecil yang sering terjadi

Beberapa hal kecil yang sering membuat bagel dan croissant terasa kurang maksimal:

  1. Menyimpan croissant di kantong plastik tertutup saat masih hangat. Uapnya terperangkap dan kulitnya jadi lembek.
  2. Menumpuk croissant di bawah barang berat di dalam tas.
  3. Memanaskan bagel utuh tanpa dibelah, sehingga bagian luar panas tapi bagian dalam masih dingin.
  4. Meninggalkan roti berisi daging atau keju di mobil yang panas selama berjam-jam.
  5. Membeli terlalu banyak untuk "stok" lalu lupa memakannya.

Kalau kamu ingin tahu pertanyaan apa saja yang sebaiknya diajukan ke toko kue atau toko roti soal penyimpanan dan kesegaran produk, kami pernah menuliskannya di Cara Memilih Toko Kue di Makassar yang Bisa Kamu Percaya untuk Momen Penting.

Bagel dan croissant di Chocolicious

Di Chocolicious, bagel dan croissant punya seri masing-masing di menu kami. Ini pilihan yang tersedia di menu website saat artikel ini ditulis, lengkap dengan harganya.

Bagel Series

Semua bagel kami dijual dengan harga Rp22.000.

Cranberry Cream Cheese Bagels punya potongan cranberry yang berwarna cantik dan isian cream cheese yang lembut. Rasanya manis dan segar, cocok untuk kamu yang ingin bagel versi "dessert".

Double Choco Bagels untuk kamu yang tim cokelat garis keras. Desainnya sederhana, tapi rasa cokelatnya lebih intens. 🍫

Beef and Cheese Bagel ditaburi wijen, dengan isian daging sapi gurih dan keju leleh. Pilihan pas untuk sarapan yang mengenyangkan.

Cheese Burger Bagels menggabungkan daging gurih dan lapisan keju dalam bagel yang lembut. Seperti burger, tapi dalam versi yang lebih praktis dibawa.

Chicken Cheese Bagels berisi ayam gurih dan keju leleh yang creamy. Cocok untuk bekal kerja atau makan siang ringan.

Croissant Series

Choco Cream Cheese Croissant (Rp27.000) adalah croissant berlapis dengan garis-garis cokelat dan cokelat putih di atasnya, plus isian cream cheese. Perpaduan cokelat dan keju yang pas untuk teman kopi sore.

Hazelnut Croissant (Rp24.000) berwarna cokelat keemasan dengan taburan kacang di atasnya dan rasa hazelnut yang harum. Buat kamu yang suka croissant manis tapi tidak terlalu ramai.

Cream Cheese Croissant (Rp27.000) ditaburi keju di atasnya dan diisi cream cheese yang lembut. Gurih dan manisnya seimbang.

Beef and Cheese Croissant (Rp22.000) punya kulit renyah dengan isian daging sapi gurih dan keju leleh. Pilihan gurih yang ringan.

Chicken Cheese Croissant (Rp22.000) berisi ayam gurih dan keju lembut dalam croissant berwarna cokelat keemasan.

Mau mix and match?

Kalau kamu membeli untuk rapat kantor atau sarapan keluarga, coba gabungkan satu atau dua bagel gurih dengan croissant manis. Misalnya Beef and Cheese Bagel untuk yang lapar berat, Hazelnut Croissant untuk yang ingin camilan ringan, dan Double Choco Bagels untuk anggota keluarga yang selalu mencari cokelat. Dengan begitu, semua orang punya pilihan.

Untuk yang punya alergi kacang, perhatikan bahwa Hazelnut Croissant memakai taburan kacang dan rasa hazelnut. Kalau ragu soal bahan produk lain, tanyakan langsung ke tim kami sebelum membeli.

Harga sesuai menu di website kami saat artikel ini ditulis dan bisa berubah sewaktu-waktu. Cek ketersediaan di outlet terdekat sebelum datang, karena stok tiap outlet bisa berbeda.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya bagel dan croissant?

Bagel adalah roti beragi berbentuk cincin yang direbus sebentar lalu dipanggang, sehingga teksturnya padat dan kenyal. Croissant adalah pastry yang adonannya dilipat berkali-kali bersama mentega, sehingga teksturnya renyah, ringan, dan berlapis.

Kenapa bagel direbus sebelum dipanggang?

Menurut Encyclopaedia Britannica, perebusan singkat "menyegel" permukaan bagel dan membuat teksturnya rapat. Setelah itu bagel dipanggang sehingga kulitnya mengilap dan sedikit liat.

Apakah croissant berasal dari Prancis?

Croissant modern berkembang di Prancis, tapi leluhurnya adalah kipferl dari Austria. Menurut Europeana, toko roti Wina milik August Zang di Paris pada akhir 1830-an ikut memperkenalkan roti bulan sabit ini ke pembuat roti Prancis.

Mana yang lebih mengenyangkan, bagel atau croissant?

Bagel umumnya terasa lebih mengenyangkan karena teksturnya padat, sedangkan croissant terasa lebih ringan. Rasa kenyang juga bergantung pada isian dan porsinya.

Bagaimana cara menghangatkan croissant supaya renyah lagi?

Hangatkan beberapa menit di oven atau toaster oven dengan suhu sedang. Hindari microwave terlalu lama karena cenderung membuat croissant lembek.

Berapa harga bagel dan croissant di Chocolicious?

Saat artikel ini ditulis, semua Bagel Series dijual Rp22.000. Croissant Series mulai Rp22.000 sampai Rp27.000. Cek ketersediaan di outlet terdekat atau tanya lewat WhatsApp.

Jadi, Kamu Tim Bagel atau Tim Croissant?

Mungkin jawabannya berubah setiap hari, dan itu tidak masalah. Ada pagi yang butuh sesuatu yang mengenyangkan, ada sore yang cukup ditemani roti ringan dan secangkir kopi. Yang penting, kamu tahu apa yang sedang kamu pilih dan menikmatinya dengan cara yang paling enak. Jadikan momenmu lebih berkesan hari ini bersama Chocolicious. Order sekarang dan cek ketersediaan di outlet terdekat. ❤️

👉 Order Sekarang via WhatsApp

Bagikan artikel ini

Komentar

Komentar ditinjau admin sebelum tampil. Link tidak diperbolehkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Baca juga

Cerita lainnya

Semua artikel